18. Perasaan Apakah Ini ?




Berjalan selangkah demi selangkah, setiap detiknya entah sudah berapa banyak sumpah serapah yang ku ucapkan di dalam hati.

Kekalahan ini jelas tidak sepenuhnya adalah kesalahan ku. Maksudku, ayolah .... Kutukan kelas khusus yang memiliki otak untuk berpikir, jelas tidak seperti kubis yang bisa kamu temui di pasar dengan mudah.

Walaupun setengah dari kegagalan ini adalah kecerobohan ku.

Tapi bagaimanapun juga selama ini aku hanya berlatih bertarung menggunakan kutukan yang mau seberapa kuatnya mereka, akan bisa langsung ku bunuh hanya dengan sekali serang saja.

Singkatnya, jelas sekali kemampuan bertarung ku tidak akan pernah bisa meningkat dengan cara seperti itu.

Singkat cerita, apa yang mau kamu harapkan dariku ?

Mungkin inilah sebabnya orang yang terlahir kuat, tidak akan begitu bagus dalam hal strategi dan teknik bertarung, dibandingkan yang kuat secara bertahap, karena mereka bisa langsung menghancurkan segalanya dalam sekejap.

Un .... Semua memang tergantung pengalaman ....

Gojo Satoru ?

Abaikan dia.

Dia hanya merusak parameter kekuatan. Walaupun Gojo juga tumbuh semakin kuat karena pengalaman, tapi pria itu seperti bug dalam game, jadi percuma membandingkan.

"Sudah lama sekali, jorogumo-san. Anda sepertinya telah banyak berubah."

Jika tubuh ini tidak memberikan ingatannya kepadaku mengenai identitasnya, aku akan benar-benar berpikir bahwa aku adalah jorogumo, dari bagaimana kamu mengatakannya dengan begitu percaya diri di sana.

"Seperti kesepakatan kita, ini sudah waktunya."

Waktunya mempertanyakan segalanya ?

Aku benar-benar tidak mengingat apapun tentang dia !

Memangnya apa hubunganmu denganku ?

"....... Lalu, bagaimana jika aku menolak ?"

Tepat setelah aku bertanya, dia langsung tersenyum.

Namun senyumannya saat menggunakan tubuh Geto Suguru terlihat sangat menjijikan, dan mungkin karena aku tidak bisa menjaga ekspresi wajahku saat ini, dia berhenti membuat senyuman yang jelek itu.

"...... Anda pasti sudah sangat jelas dengan kemampuan dari tubuh ini."

"Ya."

"Aku bisa langsung memakanmu."

"Ya."

"....... Anda tidak takut ?"

Akhirnya akulah yang tersenyum menggantikannya.

Dengan tangan Mahito yang sudah lepas dari leherku, aku sudah tidak perlu khawatir lagi untuk menggunakan kartu AS ku !

Mengaktifkan segel teleportasi yang telah dikirimkan oleh serangga yang telah diancam .... Um .... Dimintai bantuan oleh anakku secara diam-diam, aku langsung melarikan diri dengan senyum penuh kemenangan pada parasit otak tertentu.

Dan akhirnya, disinilah aku sekarang. Di luar negri, di tempat yang memiliki  paling sedikit kutukan, ku berdiri merasakan sensasi kebebasan yang tidak pernah ku pedulikan sebelumnya.

Hooooray .... ....

"Uh .... Aku ingin menangis ...."

Meski berhasil kabur, rasa sakit dari harga diri yang hancur karena kalah oleh bocah, sarang yang tidak bisa lagi digunakan, buku-buku ku, dan yang terpenting .... Anak-anak yang sudah seperti keluargaku !

Beraninya sampah itu menyakiti mereka !

Walaupun itu perintah dari ku, mereka mengorbankan diri ....

Uh .... Tapi tetap saja, jika mereka tidak datang, aku tidak perlu meminta mereka untuk melakukan tindakan putus asa semacam itu !

"Yang Mulia, semua koleksi anda telah berhasil diamankan."

"Eh ?"

Ok .... Sepertinya tidak seburuk itu.

"Karena kutukan penuh jahitan sebelumnya tidak serius melawan kami, jadi hanya ada sedikit korban, dan saat ini kami siap untuk membuat sarang lagi kapanpun perintah anda diberikan."

Ok .... Selain harga diri, kurasa tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan.

Tapi dendam tetap dendam, aku tidak akan melupakan hal ini !

"Um.... Ayo kembali ke Jepang sekarang."

"Baik, Yang Mulia !"

"Ngomong-ngomong, dimana kita sekarang ?"

"Di negara yang paling jauh dari Jepang. Jika tidak salah, manusia menamainya sebagai Brazil."

"........."

Lalu, setelah perjalanan panjang yang membosankan, akibat segel teleportasi yang hanya sedikit karena sulit dibuat, akhirnya aku pun kembali ke Tokyo dan–

"Apa apaan ini !?"

Melihat kekacauan yang terjadi di seluruh tempat, dengan banyak sekali manusia yang berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa diindentifikasi, menyerang warga sipil di Shibuya seperti film Zombie apocalypse.

Panik, aku langsung memerintahkan semua anak-anak untuk mencari para siswa dan melindungi mereka, disaat aku mencari Inumaki untuk mengambil tugas sebagai pahlawan yang menyelamatkan kecantikan.

Tapi, tidak selang lama, pencarian itu pun terhenti oleh pemandangan berdarah dari kakak beradik yang akan saling membunuh karena ketidak tahuan mereka.

"Choso ! Berhenti !"

Dengan cekatan aku langsung mengambil tindakan mengikat mereka berdua untuk menghentikan pertarungan yang sengit itu.

"Akari-san !"

Serius, aku benar-benar bersyukur bahwa aku tidak mengabaikan suara pertarungan ini dan pergi begitu saja.

"Ok..... Ayo berhenti." Menepuk lembut kepala merah muda yang basah oleh air, aku melanjutkan : "Sebagai saudara, jangan sampai saling membunuh satu sama lain."

Choso yang sebelumnya masih berusaha memberontak pun langsung terdiam, dia mengerti maksud ku, namun tetap bertanya untuk memastikan.

"Kamu mengatakan bahwa anak laki-laki disana" menunjuk Yuuji menggunakan hidung "adalah saudaraku ?"

"Ya."

"Tidak mungkin ! Bagaimana bisa ?!" Tanya anak itu, mendesak.

Di sisi lain, Yuuji sepertinya juga terstimulasi oleh informasi mengenai saudara yang datang entah darimana, dan mulai bertanya dengan bingung.

"Dia benar Akari-san. Aku adalah anak tunggal."

"Secara keseluruhan memang benar kamu adalah anak tunggal, tapi otak dari wanita yang melahirkan mu sudah digantikan sebelumnya, dan itu adalah otak sama yang menghuni tubuh ayah anak di sana."

Menunjuk ke arah Choso, aku pun dengan "bla bla bla" menjelaskan seluk beluk kelahiran mereka, dan akhirnya melepaskan ikatan setelah kedua belah pihak menjadi tenang.

Choso tertegun selama beberapa saat, dan memegangi kepalanya dengan wajah terkejut.

Melihat hal tersebut, aku langsung menyadari sesuatu.

"Ah...... Apakah kamu sudah mendapatkan ingatan itu ? Baguslah, setidaknya ini menghemat waktu ku untuk membuktikan kebenaran dari apa yang baru saja ku sampaikan."

Anak itu, Choso, memegangi kepalanya dengan bingung, dan terlihat menjadi sangat patah hati setelah aku mengatakannya.

"Kamu.... ? Uh..... Eso..... Kechizu..... Bagaimana bisa....."

Setelah merasa semua terkendali, aku pun bertanya pada Yuuji mengenai Inumaki yang entah bagaimana belum juga berhasil ditemukan.

"Ok..... Nak. Jadi bisakah kamu memberi tahuku, dimana Inumaki-kun sekarang berada ?"

"...... Akari-san......"

"Ya ?"

Meski terlihat santai, aku masih bisa merasakan kewaspadaan Yuuji saat berhadapan denganku.

"Kenapa kamu mencari senpai ?"

"Apakah kamu tidak tahu ?"

Namun, sebelum Yuuji menjawab ku, Choso langsung berusaha mengambil alih percakapan.

"Jorogumo-san....."

"Un.... Kenapa ?"

Eh !? Tunggu sebentar !

"Jenis hubungan apa yang kamu miliki dengannya ?"

Langsung terjadi keheningan selama beberapa saat di tempat itu.

Aku sendiri juga bingung, apalagi setelah Kenjaku mengundangku, aku jadi curiga bahwa Akari sebelumnya telah membuat kesepakatan dengannya menggunakan identitas palsu.

Tapi mengingat bahwa tidak terjadi apapun padaku setelah menolak, seharusnya tidak ada sumpah yang mengikat antara aku dengannya.

Jadi ....

Bagaimana jika menjawabnya sesuai dengan apa yang ku rasakan saat ini ?

"Oh.... untuk sekarang, bagaimana jika aku memperkenalkan diriku dulu ? Salam kenal. Namaku, Akari. Ku tekankan disini bahwa aku bukan jorogumo, jadi jangan sampai salah membedakan. Lalu, untuk hubunganku dengan ayah nominal mu, itu seharusnya bisa digambarkan sebagai musuh dimana dia atau aku harus mati."

Dan seperti yang sudah ku duga, kata 'ayah' telah menyulut emosi Choso yang dipenuhi kebencian.

Hehehe .... ....

Rekan didapatkan~

Meskipun aku tidak tahu apakah ini baik atau buruk dengan mengubah cerita yang sudah ada.

Tapi siapa peduli ?

Kedatanganku saja sudah mengubah cerita, jadi aku tidak bisa berharap banyak pada plot yang ku ketahui dari anime.

Di sisi lain, setidaknya aku bisa menghentikan Yuuji, anak yang ku pedulikan ini, dari terluka parah, dan mendapatkan niat baik Choso, anak dari kutukan tertentu yang mungkin telah memiliki niat untuk memakan ku sekarang.

Selama yang mendapatkan keuntungan adalah diriku sendiri, hal lain bisa diabaikan untuk sementara waktu.

"Aku akan mencarinya !" Seru Choso dengan tangan yang terkepal erat.

"Kenjaku ?" Tanyaku untuk memastikan.

"Noritoshi Kamo !"

Oh .... Sama saja.

Sepertinya untuk saat ini, semuanya berjalan dengan cukup lancar ....

"Kebetulan dia sedang menjaga prison realm yang menyegel Gojo Satoru."

"Sebenarnya, aku sudah mengetahuinya, dan.... Um.... Akari-san kan ?"

"Ya ?"

Aku sudah tahu bahwa Choso pasti akan berterimakasih karena aku sudah menghentikan pertarungan mereka, namun yang tidak pernah ku sangka sebelumnya–

"Terimakasih telah menghentikan ku dari hampir membunuh adik laki-laki ku sendiri, dan juga, informasi yang kamu berikan, aku berhutang padamu untuk itu."

Adalah senyuman yang begitu indah darinya, ternyata bisa membuat dadaku terasa hangat, dan rasa manis yang telah terlupakan itu, kembali, meski aku tidak sedang memakan apapun saat ini.

Rasa manisnya sangat kental, seperti meminum sebotol penuh madu, dan aku hampir merasa tidak tahan akan rasa manis yang berlebihan.

Menyentuh dada bagian kiri, aku mulai bertanya-tanya, apakah aku telah kembali menjadi manusia ?

Karena aku bisa merasakan sesuatu yang bergerak dari sana.

Oh jantungku yang ku tidak tahu apakah kamu ada disana atau tidak ....

Disebut apakah perasaan ini ?

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘Jangan lupa berikan komentarmu, dan sampai jumpa di chapter berikutnya

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘
Jangan lupa berikan komentarmu, dan sampai jumpa di chapter berikutnya.
⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘
█║▌│█│║▌║││█║▌║▌║


Bab sebelumnya 

Daftar bab

Bab berikutnya 

Comments

Popular posts from this blog

01. Detektif Conan

14. Jujutsu Kaisen

24. Hanya Hari-hari Biasa 2