17. Ditangkap Untuk Menghadiri Undangan Kenjaku
Setelah Gojo mengawal ku kembali ke sarang, aku adalah satu-satunya yang tersisa dan mengawasi kepergiannya, sambil merasa sangat terjerat di dalam hati seperti seseorang sedang mengikat dan membantingnya tanpa simpati.
Menyentuh tempat yang jelas kosong namun terasa sakit entah bagaimana, aku mulai mempertanyakan kelayakan dari hubungan ini.
Lagipula aku benar-benar tanpa kebebasan ....
Aku tahu kehati-hatian Gojo adalah hal yang normal.
Aku mengerti kewaspadaannya meski kita sudah berteman (?)
Tapi .... Tetap saja, ini masih keterlaluan.
Meski secara biologis aku tidak bisa dikategorikan sebagai makhluk hidup, tapi aku juga memiliki perasaan serta emosi seperti makhluk hidup lainnya.
"Meski tidak dikurung, aku merasa seperti tahanan......"
"Yang Mulia."
"Ada apa ?"
Jarang sekali ada salah satu pelayan yang mau mendekatiku.
"Apakah anda mau membaca novel ?"
"Aku sudah membaca semua– tunggu, novel ?"
Apa bahkan telingaku mulai rusak akibat terlalu kesepian ?
Sampai-sampai aku berhalusinasi mendengar kata novel darinya ?
"Kami mengerti anda tertarik dengan hal-hal manusia. Jadi, meski kami tidak tahu banyak mengenai mereka, kami mencoba untuk mencari tahu apa sekiranya yang populer dikalangan para manusia dan membawakannya untuk anda, Yang Mulia."
Kalian .... ....
"Um.... Terimakasih atas kerja kerasnya."
Ku pikir ....
Sepertinya aku tidak perlu lagi bergantung pada pertemanan yang rapuh ini.
Lagipula aku memiliki mereka di sisiku.
Tidak ada yang akan berkhianat, hanya peduli padaku, dan yang terpenting .... Kami ....
Kami semua adalah, keluarga.
***
Lalu setelahnya, hidupku telah benar-benar berubah.
Aku tidak lagi aktif menanyakan kabar Gojo, tidak lagi berusaha untuk berlarian ke kota, dan yang paling hebat dari semua yang terjadi setelah itu adalah, aku yang berhasil berhubungan dengan Inumaki.
Itu berkat hadiah dari para pelayan .... Tidak, bukan .... Tapi .... Anak-anakku. Mereka secara mengejutkan telah memerintahkan laba-laba biasa yang telah dilatih (untuk membunuh), dan burung yang telah dijinakkan (diancam) oleh anak-anakku untuk mengirim pesan pada Inumaki tanpa terdeteksi oleh penghalang.
"Fufufufufu...... Inumaki sangat manis~"
Meski beberapa surat hanya berisikan kesehariannya dengan teman-temannya, tapi karena berisikan ilustrasi chibi yang dia gambar dengan lucu, surat yang sebenarnya sangat biasa menjadi berharga.
Tapi kedamaian ini harus berakhir setelah suara yang tak terlukiskan mengisi gua ku.
CRASH ! BANG !
"Apa yang terjadi ?!"
Dengan cepat, salah satu anakku masuk dengan panik dan mulai menarik ku pergi dari kamar.
"Yang Mulia. Ini gawat, cepatlah kabur dari sini sekarang juga. Kami akan menahan penyusup itu selama mungkin !"
"Siapa ?!"
"Kutukan kelas khusus. Meski masih terbilang sangat muda, mereka berbahaya."
Perasaan sedih kehilangan banyak keturunan setia, aku yang telah menyadari bahwa mereka adalah bagian dari diriku seperti halnya kloning, menjadi sangat sedih, dan kesedihan yang mendalam ini nyaris menyulut emosi dan menghilangkan rasa rasional ku.
Untung saja kendaliku pada emosi sangatlah kuat.
Bahkan .... Meski aku telah berumur ratusan atau bahkan ribuan, diserang langsung di pangkalan cukup merugikan ku yang merupakan petarung jarak jauh dengan efek serangan yang luas.
"Sial !"
Aku pun bergegas kabur dengan tubuh arachne. Meski melarikan diri adalah tujuanku saat ini, aku tidak boleh melepaskan kemungkinan akan bertarung di tempat ini. Intinya bersiap-siap adalah hal yang paling penting.
Dan seperti ramalan, aku memang benar.
Pria dengan tubuh penuh jahitan sedang tersenyum kegirangan setelah dia keluar dari lubang yang telah dibuatnya.
Sekarang akhirnya aku mendapatkan jawaban mengapa segel tidak segera mengingatkanku dan menghalangi musuh yang menyerbu masuk.
Kutukan ini membawa benda berbentuk kapak yang terbuat dari kayu.
Kayu .... Ya ....
Hanami ....
Kutukan itu lebih menyerupai peri alam dalam mitologi, daripada kutukan itu sendiri.
Pantas saja .... Pantas saja ....
Kupikir latihan selama dua puluh satu jam, dan istirahat tiga jam sudah lebih dari cukup bagiku, tapi ternyata aku salah.
Di dunia kutukan, dimana yang kuat berkuasa, dan yang lemah adalah pecundang, aku yang terlahir sebagai kutukan lemah tidak memiliki hak untuk beristirahat seperti yang lainnya.
Istirahat hanya menyebabkan mu tertinggal ....
Jadi itu .... Sebabnya Akari tidak pernah istirahat sepanjang ingatan yang kudapat.
"Yang Mulia !"
Melihat melewati anak-anak ku yang berjaga didepan, aku memperhatikan kutukan penuh jahitan yang menghadang kami hanya berdiri di sana, menatapku tanpa berkedip, seolah melihat kelezatan yang lezat, begitu panas sehingga aku mulai merasa telah berubah menjadi mangsa.
Mengenali siapa itu, aku merasa telah terperangkap.
Didepan ada kutukan yang bisa menyentuh jiwa, dan dibelakang ada kutukan yang bisa membakar benang milikku.
Dua kutukan yang memiliki kemampuan ini benar-benar sengaja ditujukan padaku.
Sepertinya Kenjaku sudah mulai turun tangan karena diabaikan olehku setelah memberikan undangan sebelumnya menggunakan kutukan dari tubuh yang dicurinya.
Akhirnya, setelah mata kita berdua terjalin cukup lama, dia menunduk dan mengangkat kepalanya kembali untuk melihatku, dan mengungkapkan emosi yang tak terselubung di matanya.
Memalingkan mata terhadap panas terik yang menghanguskan, aku menjadi semakin waspada dan kemudian berkata perlahan, "Apakah kamu juga pembawa pesan undangan yang dia kirimkan untuk ku ?"
"Manusia ?"
Eh ?
"Apa ?"
"Bukan. Itu jelas-jelas kutukan."
Setelah kalimat itu dijatuhkan, dalam sekejap seluruh tubuhku merinding sepenuhnya.
"Apa yang kamu inginkan ?"
"Jiwa..... Apakah memang mungkin dua jiwa dalam satu tubuh ?"
Kesal dengan dia yang terus berbicara sendiri dan mengabaikan setiap pertanyaan yang ku lontarkan padanya, membuatku berniat untuk kabur terlepas dari resiko akan dihabisi di tempat karena menolak kerja sama, langsung berhenti oleh kalimat terakhirnya.
Dua jiwa .... Dalam satu tubuh ?
"Apalagi ini jiwa yang sangat mirip !"
Brengsek !
Akari !
Lalu, untuk apa aku di sini jika kamu masih di sana !?
"Ini baru !"
"Ini adalah yang pertama kalinya aku melihat hal semacam ini !"
"Jiwa kutukan dan manusia. Saling berdampingan tanpa terjadinya masalah. Ini hebat !"
Semakin Mahito berbicara, semakin takut aku karenanya.
Meski itu memang sangat membantu menjelaskan pertanyaan ku sebelumnya mengenai dimana pemilik dari tubuh ini sebenarnya, tapi jika yang memberitahuku ini adalah kutukan yang bisa dan suka bermain dengan jiwa ....
Dia tidak akan melepaskan ku, bahkan jika Kenjaku ingin menyerap ku.
Mati dan hidup lagi, memulai semua dari awal, atau menjadi laba-laba percobaan, yang masa depannya dipertanyakan. Jadi, mau pilih yang mana ?
Tentu saja ....
"Semuanya."
"Baik Yang Mulia !"
Semua anak-anakku berkumpul, membagi pekerjaan mereka dengan membuat barikade dan menyerang secara terorganisir tanpa perlu perintah dari siapapun.
Semua jenis racun dan benang dikeluarkan oleh mereka, itu sangat kuat sehingga bahkan aku ibunya pun terkejut melihat hal tersebut, namun kecoa adalah kecoa, bakat alami mereka adalah sulit untuk dibunuh, bahkan kutukan sialan itu masih bisa tertawa di sela-sela pertarungan ini.
"Brengsek !"
Setelah berlari beberapa meter, aku akhirnya bertemu dengan gunung merapi yang sudah menunggu di ujung lorong.
Haruskah ku katakan, lahar yang luar biasa di sana ?
Aku bisa melihat lorong sarang milikku sudah sepenuhnya berubah menjadi merah.
"Tsk"
Betapa sombongnya ....
Jangan lupa, aku jauh lebih tua !
Jadilah lebih hormat !
Dengan cepat, aku membuat busur dari jaring laba-laba dan langsung mengambil posisi memanah standar, memposisikan kaki dengan tungkai dan pinggul mengarah langsung ke sasaran, siku lengan di busur sedikit ditekuk. Lalu, menjaga bahu yang memegang busur tetap di bawah, dan yang terakhir dan tersulit, tegakkan kepala dan jaga agar tetap rileks.
Aku melakukan ini hanya dalam hitungan detik berkat semua latihan yang tanpa henti.
Akhirnya, dengan mengumpulkan Energi terkutuk, aku menciptakan anak panah ungu yang terkondensasi dalam tali benang perak milikku.
Mengarahkan ujung anak panah ke kepala kutukan arogan didepan, dan dengan suara "SWOSH" anak panah itu langsung meluncur dan mencapai wajah musuh dengan cepat, namun sayang berhasil dihindari olehnya.
Entah karena akurasi ku berkurang akibat aku yang melakukannya sembari menghindari lahar, atau dia memang cukup kuat untuk menghindarinya.
Namun tidak masalah, karena detik kemudian panah yang tertancap di dinding tanah, berubah menjadi asap beracun dan mengarah ke kutukan gunung merapi, meski tidak mematikan baginya, namun cukup untuk memperlambat setiap gerakan kutukan itu berikutnya.
"Tsk, hal yang menggangu!"
"Itu kalimatku !"
Seperti telah menyadari efek racun ku, dia menjadi lebih waspada dan menghilangkan semua arogansinya sebelumnya.
Dia yang sebelumnya selalu menggunakan serangan jarak jauh mulai mengubah gaya bertarungnya, dia mungkin mengira bahwa aku hanya bisa melakukan serangan jarak jauh karena selalu dilindungi oleh anak-anak ku, namun sayangnya.
"Tidak semudah itu bagimu mendekati ku, sang ratu."
Benang yang tersebar disekitar gua, bergerak untuk menjerat tubuhnya.
Meski terus terbakar lagi dan lagi, tapi ini adalah sarang ku, jangan kira kamu bisa bergerak bebas semau mu !
Setiap benang terus ku lapisi energi kutukan ku, lagi dan lagi hingga lahar miliknya memerlukan waktu yang lebih lama untuk menghanguskannya.
Dan untuk mengakhiri ini semua, aku mengarahkan ujung anak panahku padanya sekali lagi, namun kali ini lebih mudah karena target yang tetap ditempatnya.
Hanya tinggal lepaskan tali dan–
"JorÅgumo-san~ bisa lepaskan rekanku sekarang~?"
Suara kecil namun jelas menghentikan ku.
Dan setelahnya, tanpa membiarkanku bereaksi sedikitpun, sentuhan dingin bisa ku rasakan di leherku. Takut bergerak akan membuat pemilik suara mengambil tindakan, aku pun berusaha melihatnya dengan menggunakan metode peminjaman visi dari anak-anak ku, dan mendapati capung dengan bagian atas kepala dari kutukan yang seharusnya masih dihadang oleh anak-anak ku, sedang hinggap di leher yang tidak tertutup oleh bulu pakaianku.
Begitu .... ....
Alih-alih melawan mereka, bocah ini memutuskan untuk melewatinya saja ....
Ah .... Aku kena ....
Sekarang aku mendapatkan kelemahan baru, terlalu percaya dan mengandalkan mereka telah membuatku kehilangan banyak rasa waspada.
Bahkan tidak menyadari kedatangannya, ini benar-benar ceroboh ....
"Jadi, apa yang kamu inginkan ?"
"Hehehehehe...... Tentu saja kehadiranmu~"
Akhirnya aku menghadiri undangan penuh cinta dari Kenjaku demi keselamatan pribadi.
Apa itu harga diri kutukan seribu tahun ?
Hidup ini lebih penting.
Selama kamu hidup, akan ada hari kamu bisa membalaskan dendam ini nanti.
⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘
Jangan lupa berikan komentarmu, dan sampai jumpa di chapter berikutnya.
⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘
█║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Comments
Post a Comment