02. Detektif Conan




[ Matsuda Jinpei selalu menganggap dirinya sebagai orang biasa, dimana dia menjalani kehidupan biasa di dunia normal, yang dipenuhi rutinitas harian dan petualangan sesekali saat ia sedang melakukan pekerjaannya sebagai petugas polisi di waktu kerjanya.

Namun, saat ini, ia bertemu dengan sesuatu yang menghancurkan persepsinya tentang realitas, makhluk mengerikan yang bergelombang dalam cahaya redup, dimana tubuhnya adalah kumpulan massa hitam tak diketahui, dengan tentakel panjang yang menggeliat, saat itulah kepanikan langsung melanda dirinya.

Gelombang naluri mendesaknya untuk melarikan diri. Namun saat monster itu menerjang maju, wujudnya yang aneh berubah dan bermetamorfosis, sesuatu di dalam Matsuda tersentak. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri, dan bersiap untuk menghadapi hal yang mustahil ini.

Ia berlari dan menghindar, dan disaat ada kesempatan, dia akan mulai mengayunkan tinjunya sekuat yang dia bisa, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang, namun setiap serangan terasa sia-sia terhadap tubuh makhluk berwujud lumpur hitam itu, yang menyerap dampaknya seolah mengejek usahanya.

Tepat saat keputusasaan mulai muncul, secercah cahaya menembus kegelapan hutan yang suram, dan seorang elf, yang memegang busur kayu indah, muncul dari balik bayang-bayang.

Rambutnya yang panjang dan keemasan, mengalir seperti cahaya matahari di siang hari.

Begitu indah ini ...

Tapi tunggu !

Wajah peri itu, bukankah dia adalah gadis sama yang ditinggalkan olehnya di luar hutan tadi !?

Taluna : "Kau bodoh karena datang ke sini sendiri !" Teriak gadis itu, suaranya memecah kekacauan.

Dengan gerakan yang anggun, dia mengangkat busur di tangannya, dan api menyembur dari ujung jarinya dan membentuk anak panah yang siap untuk dilepaskan.

Lalu bunyi eolian pun tercipta, saat anak panah yang meluncur dengan kecepatan tinggi itu dilepaskan dari tangannya.

Makhluk tanpa bentuk itu mundur, api menjilati tubuhnya, memaksanya menggeliat kesakitan, dan Matsuda Jinpei menyaksikannya dengan penuh kagum dari kejauhan. Jantungnya berdebar bukan hanya karena takut, tetapi juga karena kagum akan adegan luar biasa yang hanya bisa muncul di film.

Jinpei : "Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia ini !?" Teriaknya di tengah kobaran api,

Siapapun dapat mendengar desakkannya dalam nada ini.

Saat peri itu melepaskan busur yang tiba-tiba menghilang di udara, dia menatapnya dengan tatapan penuh simpati dan kekhawatiran.

Taluna :  “Ceritanya panjang."

Jinpei : "Aku memiliki banyak waktu dan kesabaran untuk mendengarkan."

Lagipula, ini terasa seperti pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, dan dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak informasi.

Jinpei : "Kumohon, tolong beritahu aku !" Tekad yang membara terlihat dimatanya.

Taluna : "..... Baiklah."

Peri itu mengangguk, ekspresinya malas, namun nadanya jelas terdengar serius.

Taluna : "Aku akan mulai dari perjanjian antara manusia di dimensi kalian dan dimensi kami."  ]

Namun, saat semua orang mulai fokus untuk mendengarkan penjelasan Taluna, layar justru berubah.

Dan hal yang terlalu tiba-tiba ini membuat orang-orang yang tertarik tadi kesal karena merasa telah dipermainkan.

Kogoro : "Hei ! Haruskah bermain misterius di saat seperti ini !?"

Ran : "Ayah..... Kecilkan suaramu."

Atsushi : "Eh ? Apakah kita tidak akan jadi mendengar penjelasannya ?"

Dazai : "Eh~ sayang sekali..... Ya kan, Ranpo-san~ ?"

Merasa sedang diisyaratkan, Ranpo yang masih cukup bahagia karena misteri di film selalu berhasil membangkitkan minatnya pun, langsung menjelaskan pada mereka dengan mudah, yang jelas tidak seperti biasanya.

Ranpo : "Tidak masalah~ ini hanya selingan saja."

[ ??? : "Kamu pasti adalah pelakunya !"

Siapa idiot ini ? Pikir Ophelia yang sedang ditunjuk dan dituduh sebagai pembunuh.

??? : "Kami jelas masih melihat Rina hidup saat kami akan keluar dari toilet, dan satu-satunya orang yang masih disana bersama Rina hanyalah wanita itu !"

Haruskah aku–

??? : "Tunggu, itu tidak benar !"

Membunuhnya ....

Ophelia : "Eh ?" ]

Ran : "Eh ? Shinichi !?"

Kogoro : "Membunuh..... Wanita tadi baru saja mengatakan akan membunuh, kan !?"

Kogoro Mouri langsung kehilangan semua filter tebal yang dipasangkan nya pada wanita seksi dilayar.

Lagipula, seseorang yang bisa dengan gampangnya berpikir untuk membunuh dengan santai, tidak mungkin menjadi orang yang baik.

[ Saat Kudo Shinichi sedang sibuk menjelaskan mengenai tentang cara pelaku melakukan pembunuhan, Ophelia Delarosa yang masih berada didalam daftar tersangka, adalah satu-satunya yang tidak memperdulikannya. Karena fokus utamanya saat ini hanyalah pada sesuatu benda berbahaya yang ada didalam tubuh pemuda didepannya.

Jika aku memukul perutnya, apakah anak itu akan langsung memuntahkannya ?

Meski cara itu terdengar menarik untuk dicoba, tetapi Ophelia yang tahu bahwa mungkin masih ada cara yang lebih aman lainnya, memutuskan untuk membiarkan anak itu dulu, dan memberitahu sahabat nya, sang elf tertua Taluna Trueseer untuk membantu. ]

Di bioskop, keringat dingin mulai mengucur dari punggung pemuda yang menyusut itu.

Meski itu adalah dunia atau dimensi lain yang berbeda, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang ada di dalam tubuh Kudo Shinichi di layar, juga ada didalam tubuhnya.

Dan kemungkinan ini membuatnya menjadi cukup panik, hingga dia semakin menantikan penjelasan dari benda apa yang ada didalam tubuhnya.

Ran : "Shinichi......"

Tapi, seperti lelucon sebelumnya, adegan berpindah ke elf yang sedang menjelaskan masalalu pada Matsuda Jinpei.

Conan dan orang-orang yang peduli padanya : ".........."

Perasaan kesal ini, benar-benar sebuah dejavu yang tidak menyenangkan.

[ Taluna : "Spearpoint Nebula, adalah nama dari alam semesta ini, dan di dimensi tertentu, tepatnya planet yang diberi nama the supreme realm oleh para manusia, berbagai ras kuat dan berbahaya dari banyak planet yang tersebar di alam semesta, berkumpul."

Matsuda Jinpei memperhatikan gadis elf itu mengambil ranting, dan mulai menggambar lingkaran besar di tanah, dan disusul lingkaran berukuran sedang di tengah-tengahnya sambil berkata "the supreme realm" sambil menunjuk ke arah lingkaran tersebut menggunakan ranting.

Jinpei : "Pasti ada alasannya."

Taluna : "Ya. Ini semua karena manusia."

Jinpei langsung merasa tidak enak setelah mendengarnya, bagaimanapun, sejarah kekejaman manusia itu nyata.

Jadi apakah mungkin–

Taluna : "Ada apa dengan ekspresi wajahmu ? Sudah ku katakan bahwa mereka adalah ras yang sangat kuat, apa kamu pikir kami dapat diusir dengan mudah ?"

Jinpei : "Eh ?"

Taluna : "Banyak dari anggota di berbagai ras yang sangat menyukai manusia."

Jinpei : "Apakah karena aku manusia, jadi aku tidak mengerti alasan dari preferensi khusus mereka pada ras kami ?"

Taluna : "Hm..... bagaimana aku harus menjelaskannya ?"

Matsuda Jinpei menunggu dengan tenang saat elf itu sedang mencoba merangkai kata-katanya meski agak lama.

Lagipula, meski dia ingin secepatnya mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi kenyataan bahwa elf itu masih dapat dengan tenang menjelaskan hal ini pada dirinya, membuktikan bahwa masalah besar belum terjadi.

Jadi, dia tidak terlalu terburu-buru sekarang.

Taluna : "Manusia adalah ras cerdas dengan rentang usia tersingkat dari banyaknya ras cerdas lainnya. Namun, meski lemah dan memiliki banyak keterbatasan, ambisi dan dorongan mereka untuk mencapai sesuatu sebelum hidup mereka yang singkat berlalu, adalah sesuatu yang luarbiasa dimata kami."

Bersamaan dengan suara sang elf, hembusan angin menerbangkan helaian rambutnya yang seperti benang emas.

Dengan latarbelakang pepohonan, dan gadis elf cantik yang seharusnya hanya ada dalam cerita, membuat pemandangan ini sungguh indah, hingga bahkan Matsuda Jinpei pun terpesona, dan sesaat hampir lupa untuk mendengarkannya.

Taluna : "Dan meski usaha manusia terkadang tampak begitu sia-sia, tapi kemudian kamu dapat melihat apa yang telah mereka capai, dan bahkan kami pun harus menghargai pencapaian mereka."

Taluna : "Bagaimanapun, hidup yang panjang telah membuat kami kehilangan kesenangan dan tujuan."

Taluna : "Kau tahu ? Kami telah menjalani hari demi hari, dimana hari ini akan mengulang kemarin, dan hari esok akan mengulang hari ini. Hingga di suatu saat, bahkan kami pun mulai merasa iri pada manusia. Meskipun hidup mereka yang singkat itu seperti kilatan api, hidup seperti itu sebenarnya cukup mengagumkan."

Pada titik ini, tatapan Taluna mulai menunjukkan sedikit rasa iri saat melihat Jinpei yang terkejut. ]

]


Bab sebelumnya

Daftar bab

Bab berikutnya

Comments

Popular posts from this blog

01. Detektif Conan

14. Jujutsu Kaisen

24. Hanya Hari-hari Biasa 2