29. Gagal
"Selamat malam kaachan......"
Naruto menggosok matanya yang basah akibat menguap, dan menunggu kecupan selamat malam di dahi dari ibunya.
Membungkuk, Hasina melakukan ritual yang sudah mereka lakukan sejak anaknya terbangun ketakutan oleh mimpi buruk, dan mencarinya dengan tubuh yang gemetar begitu kuat hingga mengkhawatirkan.
Dengan kecupan serta membalas selamat malam pada putranya, Hasina mematikan lampu dan keluar sebelum akhirnya menutup pintu perlahan.
Sesaat kemudian, dengan terhalangnya pandangan Naruto darinya, senyuman lembut keibuan Hasina pun menghilang.
"Aku akan menemanimu."
Tomo dengan pakaian miko nya muncul dari balik dinding, dan berjalan ke arahnya dengan tatapan yang tidak pernah berpaling sedikitpun darinya.
"Apa kamu mengkhawatirkan ku~ ?"
"Jangan berusaha bercanda disaat tanganmu gemetar seperti itu."
Tomo menyaksikan betapa tertekannya Hasina dari wajahnya.
Ketakutan, keraguan, kesedihan, dan–
"Pembunuhan pertama akan menjadi yang paling mendebarkan. Beberapa orang biasanya akan berakhir ketagihan atau trauma setelahnya, jadi aku akan ada disana untuk berjaga-jaga jika ada yang salah denganmu nanti."
Tekad.
Meski penuh dengan emosi negatif, Tomo menjadi sangat hormat pada tekad yang ada di mata wanita yang sekarang berada di hadapannya.
Entah berapa banyak keraguan dan ketakutan yang dia rasakan saat memegang senjata saat itu. Dia bahkan harus memaksakan diri, karena melindungi target adalah demi diri sendiri.
Tidak seperti Adelia yang berfikir untuk mendahulukan Naruto dan Kakashi diatas dirinya, dia sebaliknya, benar-benar murni manusia egois yang bergerak berdasarkan keuntungan di atas segalanya.
"Kamu sepertinya yakin aku dan Danzo akan saling membunuh satu sama lain."
"....... Mungkin harus ku katakan, berkat instingku yang terlatih, karena itu aku bisa berpikir seperti itu."
Akhirnya kedua orang itu pun pergi bersama.
***
Di malam yang gelap, dimana bahkan sinar bulan tidak mampu untuk menembus awan, dua sosok yang sangat mencolok saling berhadapan.
Wanita dan pria tua.
Mereka berdua memiliki wajah serius yang terlihat seperti akan memulai pertarungan kapan saja.
Bahkan seakan ingin mendukung suasana tersebut, tidak ada makhluk hidup satupun yang berani membuat suara, dan hanya angin berhembus yang membawa awan di langit pergi meninggalkan mereka berdua.
Tanpa penghalang, cahaya putih dari langit pun jatuh di tubuh dua orang itu seperti lampu sorot yang mengisi area panggung gelap mereka.
"Harus ku katakan. Kamu benar-benar berani mendatangiku di wilayahku sendiri wanita rubah."
"Aku sebenarnya tidak menginginkan ini, sungguh. Kau lah yang mema–"
Hasina menghentikan ucapannya saat dia tersadar bahwa dia hampir saja menjadi sosok orang yang paling dia benci saat mengatakan hal sebelumnya.
Tersenyum kecut, Hasina kembali menatap mata Danzo yang telah kebingungan dengan perubahan emosi yang sangat tiba-tiba pada wanita dihadapannya.
Awalnya, dia begitu putus asa seakan-akan tidak ingin menghadapinya, bahkan hingga ke tahap dia pikir wanita itu takut padanya. Tapi–
"Aku benar-benar bodoh. Untuk apa aku mencari pembenaran untuk apa yang akan ku lakukan, hanya demi membuat diriku sendiri merasa nyaman. Sungguh..... Tidak berguna."
Mendengar tawa yang mengejek diri sendiri dari wanita rubah itu, Danzo tiba-tiba merasakan tekanan yang sangat kuat. Sangat kuat hingga dia bertanya-tanya apakah sesuatu yang berwujud benar-benar menekan dirinya, namun hanya dibuat bingung saat tangannya tidak bisa meraih apapun di tempat dimana dia sedang merasakan.
"Shimura Danzo. Biarkan aku bertanya padamu satu hal. Sebagai seorang ibu yang mengkhawatirkan putranya, dan seorang wanita yang hanya ingin hidup damai bersama keluarganya. Apakah kamu bersedia melepaskan kami, dan hidup terpisah tanpa saling menggangu kepentingan satu sama lain ?"
Dia, Danzo tidak tahu apakah harus menertawakan kenaifan wanita bodoh itu, atau harus menyelesaikannya ditempat karena menjelaskan pada mereka yang tidak mengerti hanya akan berakhir menyia-nyiakan waktu.
Tetapi, karena dia masih sedikit memiliki simpati pada wanita yang akan mati, dia akhirnya memilih untuk menjelaskan ideologi miliknya, demi agar wanita menyedihkan itu tidak mati dalam kondisi penasaran dan berakhir sebagai arwah yang penasaran.
"Kamu bukanlah shinobi, jadi kamu pasti tidak akan mengerti. Tidak pernah melihat cahaya, dan bekerja keras dalam bayang-bayang. Itulah cara kerja seorang shinobi sejati. Banyak shinobi yang mati dengan cara yang sama. Dunia ini tidak bisa berfungsi pada cita-cita dan basa-basi."
Meski Hasina merasa terganggu saat mendengar monolog Danzo, Hasina yang sadar bahwa dialah orang yang pertama kali bertanya, memilih untuk mendengarkannya dengan sabar.
Sangat berbeda dengan seekor kucing tertentu yang sangat kesal dengan ocehan pria itu. Dia bahkan mengeong, mengumpat dengan bahasa kucing yang tidak diketahui artinya di balik bayang-bayang.
"Emosi membawa seseorang pada kebencian, kebencian membawa seseorang pada konflik dan perang. Kamu bukanlah penduduk asli Konoha, tapi diberikan izin untuk merawat seorang anak yang membawa kekuatan militer desa. Terlalu berbahaya, terlalu beresiko. Tidak ada yang tahu apakah anak itu akan berbalik melawan desa setelah memilikimu di sisinya."
Meremas tinjunya dengan erat, Hasina terus menahan diri untuk melakukan tindakan memalukan dengan menyerang orang yang sedang berbicara.
Tapi, akhir kalimat Danzo telah memutuskan semua tali kesabaran yang sudah dengan susah payah dia pertahankan.
"Alat tidak memerlukan emosi pada mereka."
Hasina menerjang Danzo dengan kukunya yang tiba-tiba tumbuh panjang sekitar enam puluh sentimeter.
Dengan suara dentingan hasil benturan kuku Hasina dan senjata para anbu yang melindungi Danzo, pertarungan pun dimulai.
Sementara pertarungan yang sengit terjadi, Tomo yang masih mengingat wajah penuh kepuasan Danzo sebelumnya benar-benar merasa bahwa pria tua itu sudah terlalu tidak memiliki harapan. Usia tuanya telah membuyarkan rasionalitas yang telah membuatnya berakhir menjadi apa yang dia saksikan sekarang.
Bodoh, dan ceroboh. Bahkan anak lima tahun tahu bagaimana waspada saat tekanan yang dipancarkan oleh Hasina saja sudah cukup untuk membuatnya sulit berdiri.
Dari penilaian Tomo yang bisa merasakan berapa banyak total keseluruhan orang-orang milik Danzo yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang untuk menunggu perintah, dia percaya bahwa kepercayaan diri pria tua itu terletak pada kuantitasnya yang tidak dimiliki oleh Hasina saat ini.
Sayangnya, meski kuantitas biasanya memang berpengaruh banyak, kualitas adalah penentu sebenarnya dari banyak jenis pertarungan.
'Cih, sangat curang. Tapi karena dia adalah rekan..... Demi hubungan yang telah aku dan dia bangun selama waktu ini, aku akan menahan diri untuk mengatakan hal buruk apapun mengenai kemampuannya yang curang.'
Menutup matanya dengan waktu yang agak lama, Tomo mendengus saat melihat pemandangan dari pria tua congkak tidak tahu diri yang dengan pengecut bersembunyi di belakang bawahannya.
Kesal.
Jika bukan karena permintaan Hasina yang ingin menyelesaikan semuanya sendiri, dan mengingat bahwa tujuannya adalah membiarkan kesempatan bagi rekannya untuk belajar, Tomo pasti sudah mematahkan tengkorak pria itu.
'Bajingan ! Wajahnya benar-benar dibuat untuk dibenci orang. Aku sangat ingin menghajarnya tanpa mengatas namakan keadilan ! Murni hanya kebencian !'
Tomo berharap agar Danzo segera mati dan menghilang dari pandangannya.
Bahkan berpikir bahwa mereka berbagi udara yang sama telah membuatnya sangat muak.
Kembali ke adegan pertarungan Hasina dengan Danzo yang bersembunyi diantara bawahannya.
Terlihat, bahwa pergerakan Hasina semakin tertahan dengan banyaknya anbu root yang terus berdatangan tanpa henti.
Tidak peduli seberapa parah luka yang diberikan oleh Hasina, mereka akan tetap menjadi perisai daging dan senjata yang hanya hidup untuk digunakan. Orang-orang itu seakan-akan tidak mengganggap serius hidup mereka.
Pada akhirnya, melukai saja tidak akan cukup.
'Adel. Aku tahu kamu tidak ingin membunuh orang-orang itu karena simpati, tapi apa yang kamu lakukan sekarang lebih buruk daripada langsung menghabisi nyawa mereka. Rasa sakit yang harus dirasakan demi melindungi orang yang tidak layak itu mungkin lebih menyiksa.'
'Tia. Aku tidak memiliki hak untuk menentukan hidup dan mati mereka. Musuhku yang sebenarnya hanyalah Danzo.'
Sejak awal Tia bertemu Adel, dia sebenarnya sudah sangat mengagumi wanita itu karena kebaikan tulus yang terpancar darinya. Tapi–
Kaki patah, tangan hilang, luka cakaran dalam dengan darah yang terus mengalir. Melihat berbagai musuh yang berjuang mati-matian menahan Hasina, dan temannya yang masih ragu-ragu, Tia akhirnya menjadi semakin tidak sabar.
'Jika kamu memang peduli dengan orang-orang tak relevan itu, maka gunakan semua kemampuanmu untuk langsung membunuh Danzo dan ekspos kehadiran kita disini !'
'Tia...... Kamu.....'
Transmisi suara Tia telah membuat gerakan Hasina sempat terganggu dan nyaris saja membuatnya terluka.
Dia sudah terbiasa dengan emosi Tia yang meledak-ledak, tapi barusan jelas berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya.
Kali ini Tia serius marah padanya.
Mengambil jarak aman, Adelia ingin memastikan hal terakhir sebelum dia mengambil keputusan.
"Danzo..... Apakah kamu bahkan tidak peduli pada kehidupan para bawahanmu serta harga dirimu sebagai pemimpin mereka ? Terus bersembunyi, apakah kamu bahkan tidak malu ?"
Entah apakah anbu root cukup perhatian, atau mereka sudah diperintahkan, saat ini tidak ada satupun dari mereka yang mencoba menyerang Hasina saat dia sedang berbicara.
"Pengorbanan diri, itulah yang melambangkan seorang shinobi."
"Hah ! Jadi..... Kenapa kamu tidak mengorbankan dirimu juga ?!"
Hasina awalnya tidak ingin terlalu banyak menunjukkan kemampuannya. Tidak hanya dia tidak mau mengungkapkan dirinya pada sistem, dia juga tidak mau desa Konoha dengan Hokage yang payah ikut menargetkan dirinya setelah ini. Tapi–
'Tia. Maaf karena tidak mendengarkan saran mu sebelumnya.'
'Adel.....'
Hasina langsung memutuskan transmisi suara diantara mereka secara sepihak, dan memulai rencana mengerikannya.
Dia tidak menginginkannya, sungguh. Terutama mengingat bahwa jumlah nyawa yang dia ambil mungkin akan melebihi kisaran wajar yang seharusnya. Tapi Danzo terus menerus bersembunyi, dan di sisi lain dia tidak cukup berpengalaman untuk membunuh musuh dengan lebih efesien. Ditambah mual akibat darah dan anggota tubuh yang berceceran, Hasina sangat dirugikan dalam pertarungan ini terlepas dari kekuatannya.
Tidak peduli seberapa lemahnya mereka dibandingkan Hasina, Mereka bisa lebih dari cukup untuk memperlambat gerakannya. Tidak peduli apa, musuhnya adalah pembunuh yang terlatih.
Apalagi mundur juga bukan pilihan. Danzo hanya akan semakin menargetkan dirinya, dan Hokage pasti akan memilih temanya terlepas dari siapa yang memulai dan salah dalam hal ini.
'Seharusnya aku memang mendengarkan saran dari yang berpengalaman. Tia serius dengan apa yang dia katakan.'
Hasina berpikir Danzo setidaknya akan berusaha mencoba untuk melawan bersama para bawahan miliknya. Namun sayangnya, dia salah.
'Aku memang tidak seharusnya terlalu berharap pada manusia, mengingat betapa kejamnya mereka, dan sekarang aku hanya merugikan diri sendiri. Lain kali, ayo ikuti saran Tia.'
Alih-alih melakukan pertarungan secara adil dan terhormat, bunuh saja satu secara diam-diam. Dengan begitu setidaknya dia tidak perlu melakukan pembunuhan yang tidak perlu.
'Adelia !'
'Eh.....'
Terkejut dengan suara Tia yang tiba-tiba muncul meski dia sudah memblokir suara darinya, tangan Adel yang akan mengambil senjata dari game terhenti.
'Ini tidak baik ! Naruto–'
Mendengar nama putranya disebutkan, Hasina tanpa memperdulikan penampilan dan rencananya, langsung bergegas kembali ke rumah dengan teleport di ruangan yang sudah dia tandai.
Tanpa pikir panjang dia berlari menuju kamar milik Naruto di lantai dua, dan Hasina tegang setelah merasakan kehadiran yang tidak seharusnya ada.
'Sialan ! Danzo !'
Melihat pintu kamar yang semakin dekat, pupil mata Hasina menyusut dengan taring di mulutnya yang berangsur-angsur tumbuh akibat rasa takut yang berlebih.
Tia yang masih dalam bentuk kucingnya menyusul dari arah belakang, dan menjadi ikut panik saat melihat perubahan pada temannya. Pada saat yang sama, Hasina memutar kenop pintu, dan terpana saat melihat pemandangan di dalam ruangan.
Didepannya, Hasina menyaksikan sosok yang menyerupai dirinya memegang pisau dan berniat untuk menusukkannya pada putranya yang baru setengah sadar dari tidur nyenyak.
Kilasan balik seketika muncul di kepalanya. "Serang jinchūriki kyūbi dan sebarkan desas-desus bahwa wanita itulah yang melakukannya !" Suara Danzo yang disampaikan oleh kupu-kupu miliknya entah kenapa baru bisa dia ingat di saat yang sudah seperti ini.
'Tidak ! Kenapa aku bahkan bisa lupa ! Kenapa ?!'
Lalu adegan menjadi begitu lambat.
Setiap langkah yang diambilnya terasa sangat berat, namun pisau bergerak semakin mendekat.
Hasina tahu dirinya yang palsu tidak berniat untuk membunuh putranya, terlihat dari bagaimana dia mengarahkannya ke tempat yang tidak fatal.
Tapi siapa yang peduli ?
Fatal atau tidak, faktanya luka adalah luka. Hasina tidak ingin putranya harus merasakan rasa sakit apapun sebisanya.
"Kaachan ?"
Ketika Hasina sadar dia tidak akan sampai tepat waktu, dia mendengar suara putranya memanggil dirinya.
Saat itu, Hasina sudah tidak lagi bisa berpikir dengan jelas.
Tanpa menyadari apa yang telah terjadi, Naruto yang baru saja bangun hanya bisa terdiam saat melihat penampakan ibunya yang tidak biasa. Meski wajah itu adalah wajah yang sama, dia merasa asing entah bagaimana.
Mata mereka terjalin, dan pantulan cahaya dari pisau membuat punggungnya terasa sangat dingin.
'Apa yang terjadi ?'
Sesaat kemudian, dia berkedip. Perasaan hangat menyelimutinya, dan tangan yang ramping melingkari tubuhnya. Itu adalah jenis pelukan yang sudah sangat ia kenal, namun–
'Apa itu ?'
Naruto merasakan perasaan baru dari sensasi panas cairan kental tak dikenal yang mengenai kulit di wajahnya. Sensasi dari cairan yang tidak menyenangkan mengalir turun secara perlahan, dan aroma besi menerobos masuk ke indra penciuman.
Lalu disusul dengan suara lolongan penuh rasa sakit, dan bau daging gosong yang terbakar.
"Tidak apa-apa. Sudah tidak apa-apa."
Itu adalah suara lembut ibunya. Suara lembut yang sangat dikenalnya, namun terdengar lemah dan sedih dengan rasa sakit yang bercampur ke dalamnya.
"Kaachan ?"
Saat dia membuka kembali matanya, disaat itu dia tahu betapa sakitnya melihat senyuman untuk pertama kali dalam hidupnya.
Ibunya yang memiliki luka sayatan di wajahnya, masih tersenyum menenangkan.
Mengingat apa yang tadi dia lihat, dan apa yang dia saksikan sekarang, tidak perlu otak yang pintar untuk membuatnya tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Kaachan..... Maaf..... Karena aku tidak tahu bagaimana menghindar..... Karena aku tidak begitu pintar..... Kaachan sekarang–"
"Sssst~ jangan meminta maaf. Permintaan maaf hanya bisa diucapkan saat kamu telah melakukan kesalahan. Apa yang terjadi sekarang adalah kesalahanku, yang terlalu ceroboh dan bahkan berakhir membuatmu berada dalam bahaya. Jadi Naruto, bisakah kamu memaafkan kaachan...... ?"
Jelas dia tahu bahwa dialah yang salah, tapi ibunya berusaha untuk mengambil tanggungjawab itu dengan menyalahkan dirinya.
Naruto sangat tertekan untuk ibunya, tanpa dia tahu bahwa kali ini memang adalah kecerobohan yang dilakukan oleh Hasina.
"Kaachan...... Kamu terlalu memanjakan......"
".......... Tidurlah lagi, dan anggap semua ini sebagai mimpi buruk."
"......."
"Karena mimpi buruk harus dilupakan, kamu tidak perlu mengingatnya lagi."
"..... Maaf kaachan. Aku ingin selalu mengingatnya. Mengingat bahwa ada sosok hebat yang melindungi ku dalam pelukan."
Menghapus darah dari wajah putranya dengan handuk hangat. Hasina yang sudah mengobati lukanya melihat kekacauan di kamar Naruto, dan karena akan butuh waktu lama untuk dibersihkan, Hasina pun menggendong anak itu dan menidurkannya di kamar miliknya.
Berbaring di samping sambil memeluk tubuh kecilnya yang masih sesekali gemetar mengingat kejadian barusan.
'Adel. Kita gagal.'
'....... Tia, aku lah satu-satunya yang gagal. Kamu benar, kebaikanku memang terlalu naif untuk dunia ini. Mungkin aku tidak perlu mempertahankannya lagi.'
Mengelus bagian belakang kepala Naruto, Adel akhirnya mengalami kegagalan untuk pertama kalinya setelah tiba di dunia ini.
'Berikutnya...... Aku akan langsung membunuhnya tanpa percakapan omong kosong itu lagi.'
Emosi tidak menyenangkan Adelia, membuat Tia merasa takut kehilangan cahaya terakhirnya.
Dia khawatir kehadirannya telah membawa pengaruh buruk pada Adelia.
'Aku hanya mengingatkan. Jangan lupa siapa kamu, dan jangan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa di kenali, karena kamu pasti akan menyesal suatu saat nanti.'
'Tia..... Sudah tidak ada jalan kembali.'
Memikirkan bagaimana santainya dia saat ini tanpa tekanan pikiran setelah membunuh, Adelia mulai bertanya-tanya apakah dia benar baik-baik saja.
Apakah energi positifnya selama ini hanyalah karakter yang muncul dari kewajibannya untuk memenuhi persyaratan dunia yang diatur oleh hukum ?
Atau–
"Aku mungkin memang tidak normal." Gumam Adelia yang dia kira tidak mungkin akan terdengar.
'........ Adel...... Jangan terlalu banyak berpikir di saat seperti ini. Tidur lah saja. Aku akan mengawasi.'
Menutup matanya, Adelia merasakan sensasi kenyal dan lembut dari kacang jeli telapak kaki kucing milik Tia di dahinya.
"Mimpi indah, kalian berdua."
╔═════ ⊹⊱✫⊰⊹ ═════╗
✧*。 see you later 。*✧
╚═════ ⊹⊱✫⊰⊹ ═════╝
Author note : karena plot hampir runtuh, aku jadi lama untuk update.
Aku awalnya terpikir sesuatu yang keren, tapi karena inspirasi datang saat aku lagi mandi dan lupa untuk mencatat semuanya, akhirnya aku berakhir kebingungan karena ide yang tidak lengkap.
Sekarang aku lagi fase kebuntuan dan yeah~
Doakan aku guys~
Comments
Post a Comment