Saat semua orang fokus pada Masamichi Kisa yang tiba-tiba muncul, layar yang tadinya menjadi gelap, kini menyala kembali dan menunjukkan seorang wanita dewasa seksi yang sangat cantik. Rambutnya yang berwarna putih, terlihat begitu bersih seperti salju pertama di musim dingin, dan matanya yang berwarna merah, seindah mawar yang masih segar. Jika Masamichi Kisa adalah kecantikan yang anggun, tegas, dan dingin seperti bunga di puncak gunung es, maka wanita di layar, adalah kecantikan menggoda yang seperti rubah, lirikan darinya mampu membuat para pria maupun wanita mempercepat detakan jantung mereka. Apalagi ditambah dengan asetnya yang berlebihan, membuat beberapa anak muda yang masih polos itu menjadi malu dan bingung harus melihat kearah mana. [ Rubah putih berlari kearah wanita itu, lalu melompat dengan anggun dan mendarat tepat di pundak si cantik. ??? : "Apa yang kamu lakukan, Ker ?" Rubah putih bernama Ker, yang berarti roh kematian perempuan dalam bahasa Yunani, menjaw...
[ Keduanya terdiam .... Tidak, mungkin harus dikatakan ketiganya, lagipula Tsumiki juga ada disana. Satoru : "..... Kamu benar-benar....." Benar-benar diluar ekspektasi nya. Jelas-jelas bahwa wanita ini kejam, bahkan dia sering merasakan niat membunuh yang tidak main-main terpancar darinya. Dan sebagai pemilik enam mata serta limitless, dia sudah sering menemukan orang semacam itu, yang seperti lumpur hitam dan memiliki perasaan kotor yang sangat kental berusaha datang untuk membunuhnya. Perasaan yang hanya bisa muncul dari pembunuhan yang sering dilakukan, hingga jiwanya pun seperti mulai menjadi keruh. Tapi .... Kenapa sangat berbeda ? Kisa : "Aku tahu..... Maksudmu, seperti orang-orang tua di rumah mu, kan.... Senpai ?" Satoru : "Hm..... ? Apa aku pernah mengatakan itu ?" Gojo Satoru benar-benar telah melupakan kalimat kasar yang dia ucapkan saat bertemu dengan Masamichi Kisa di pertemuan pertama mereka. ] Dan di bioskop, Gojo Satoru yang melihat hal i...
Di ruang penuh lembaran kertas dan beragam buku serta berbagai ukuran kuas, berdirilah seorang wanita berambut ungu, dengan kedua tangannya yang sibuk memindahkan setumpuk kertas mantra dengan aroma tinta yang tersebar di seluruh ruangan. Tangan dan kakinya terus bergerak tanpa henti, dan mata yang menyipit terlihat seperti dia marah dan akan meledak kapanpun. "Gojo !" Bentak ku karena marah setelah kesabaran semakin berkurang dari waktu ke waktu. "Ada apa ?" "Hentikan narasi narasi aneh itu !" Menghela nafas berat, aku berusaha menjelaskan dengan sangat baik : "tolong mengertilah, aku butuh ketenangan saat sedang bekerja." Tapi sayangnya putra dewa yang bangga ini tidak peduli pada masalah remeh manusia biasa sepertiku. "Kamu bisa menganggapnya sebagai latihan mempertahankan fokus dan kesabaran." "...... Haruskah aku berterimakasih ?" "Sama-sama. Aku tidak keberatan." Aku keberatan ! "Tidak bisakah kamu berm...
Comments
Post a Comment